Sekarang aku mengerti kalau hidup memang tak selamanya mudah. Kegagalan. Menjadi sebuah kata yang menyadarkan jika memang life is never flat! Namun ketika kita dapat menyukuri hal itu, kegagalan justru menjadi sebuah awal dari sebuah kesukseskan.
"Failure is simply the opportunity to begin again, this time more intelligently"
4 Juli 2012 penantian yang ku tunggu-tunggu selama kurang
lebih satu bulan. Hari ketika nilai NEM akan dibagikan. Perasaan
deg-degan,takut,penasaran, rasa ingin tahu dan takut telah menghampiri ku
sedari aku bangun tidur pagi itu. Aku tak bisa hanya berdiam diri di rumah
menunggu hasil belajarku selama 3 tahun itu. Lagi pula, aku dan teman teman
sekelas memang sudah janji untuk ikut mengambil hasil di sekolah.
Dari awal aku sudah agak merasa kecewa. Ketika diumumkan
nilai tertinggi bukan aku lagi. Ambisius, bukan. Aku tak pernah mengharuskan
menjadi yang terbaik. Optimis, aku lebih suka kata itu. Aku memang selalu
berusaha untuk menjadi yang terbaik. Tetapi, sekiranya aku tak akan pernah
menggunakan prinsip ambisi dalam diriku. Waktu berjalan begitu lama, hingga akhirnya
tiba orang tuaku mengambil kertas hasil belajar dari wali kelasku. Terlihat dari
jauh guratan perasaan kurang puas tergambar dalam wajah bapak&ibu. Aku
mendekat, mengambil kertas dan melihat dengan jelas tertulis kata LULUS dan
sebuah nilai NEM 37.65. Aku seharusnya bersyukur. Tapi aku justru memikirkan
hal-hal yang setelah aku sadari itu sangat tolol.
“Yah! NEM ini bisa
diterima di P*dz gak ya? Duh nilai terendah tahun lalu di sana berapa sih? Tapi
ini persebaran nilainya tinggi atau rendah ya. Hla tapi itu yang lain
tinggi-tinggi. Trus gimana kalo aku gak bisa di terima di sana..............”
Seketika aku menangis. Hal itu terus bergejolak dalam
pikiranku selama perjalanan pulang. Sekolah impianku sejak SD. Terispirasi oleh
seorang kakaku yang sering menceritakan kegiatan kegiatan asyik dan hal
menyenangkan di sana. Bukan hanya itu, akan ada sebuah perasaan “tertekan” jika
aku tak bisa di terima di sekolah itu. How
come? Well, two of my cousins are studying there. So did my sister. Pikiran
pendek memang. Manusia punya jalan sendiri-sendiri. Namun, sebenarnya bukan hanya
karena cerita cerita “baik” yang sering aku dengar dari saudara-saudaraku, but deeply, dari diri ku sendiri aku
memang pengen sekolah di sana. Ya You-Know-It’s
one of most fovourite-famous-high quality-good sekolah di Yogykarta.
The Day! Jujur aku sedikit pesimis melihat nilai-nilai lain yang
lebih tinggi. Belum lagi, nilai yang ditambah nilai prestasi yang menjadi lebih
dan lebih tinggi. Setelah aku memasukan form pendaftaran di sekolah itu, aku
terus meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa. Aku pasti bisa diterima. Hari
pertama aman. Aku masih bertengger dalam daftar nama-nama pendaftar sekolah
itu. Namun, hari kedua sekaligus hari terakhir pendaftaran dan penutupan
menjadi hari sulit. Posisiku terus turun, terdesak pendaftar pendaftar baru.
Turun dan turun hingga lembar halaman terkahir. Hingga akhirnya, pukul 12.05
aku terlempar.Namaku sudah tak tertulis lagi di lembar deretan nama nama
pendaftar sekolah P*dz. Hilang sudah
kesempatanku dapat bersekolah di situ.Impian sejak aku di bangku sekolah dasar
sekarang menjauh.
Duniaku seakan runtuh saat itu. Tak ada yang bisa ku lakuakan
selain menangis. Sedih dan kecewa.Namun, aku berusaha menerima. Kutinggalkan
lembar nama-nama pendaftar di sekolah itu. Aku beralih ke deretan nama nama di
daftar SMAN 8 Yogyakarta. Namun kemudian pukul 13.21 namaku kembali tak ada
dalam nama pendaftar SMAN 8 Yogyakarta. Aku panik. Kulihat nilaiku masih
mencukupi di SMAN 8 Yogyakarta. Ternyata, namaku kembali tertulis di lembar
pendaftar sekolah P*dz. Yah, walaupun di posisi terakhir. Aku sangat
bersyukur.Hal ini seakan memberi angin segar dalam rongga dadaku. Mimpi itu
kembali dekat. Aku terus merefresh
data dan Alhamdulillah aku masih bertahan.
Hingga pukul 13.57, tiga menit
sebelum pendaftaran ditutup, ya tiga menit yang mengubah kebahagian menjadi
sebuah kesedihan lagi. Aku kembali terlempar. Dan ini rasanya lebih sakit.
Sangat. Lebih sedih. Lebih kecewa. Ya, aku menangis. Menangis untuk yang kedua
kalinya. Bahkan, aku sempat berpikir,
mengapa Allah mempermainkan aku seperti ini. Namun, karna kata-kata Ibu yang
terus menenangkan aku, aku sadar. Aku yakin, ini memang jalan yang terbaik yang
telah diberikan Allah kepadaku. Allah tak pernah salah. Aku terus meyakini itu.
Berusaha untuk menerima dan ikhlas. Gak gampang memang. Aku tak memungkiri itu.
Butuh waktu yang lama hingga aku benar benar mengerti jalan apa yang sebenarnya
telah ditunjukkan Allah kepadaku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar