Sabtu, 27 Oktober 2012

This is The Way I am


Sekarang aku mengerti kalau hidup memang tak selamanya mudah. Kegagalan. Menjadi sebuah kata yang menyadarkan jika memang life is never flat!  Namun ketika kita dapat menyukuri hal itu, kegagalan justru menjadi sebuah awal dari sebuah kesukseskan. 

"Failure is simply the opportunity to begin again, this time more intelligently"

4 Juli 2012 penantian yang ku tunggu-tunggu selama kurang lebih satu bulan. Hari ketika nilai NEM akan dibagikan. Perasaan deg-degan,takut,penasaran, rasa ingin tahu dan takut telah menghampiri ku sedari aku bangun tidur pagi itu. Aku tak bisa hanya berdiam diri di rumah menunggu hasil belajarku selama 3 tahun itu. Lagi pula, aku dan teman teman sekelas memang sudah janji untuk ikut mengambil hasil di sekolah.
Dari awal aku sudah agak merasa kecewa. Ketika diumumkan nilai tertinggi bukan aku lagi. Ambisius, bukan. Aku tak pernah mengharuskan menjadi yang terbaik. Optimis, aku lebih suka kata itu. Aku memang selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Tetapi, sekiranya aku tak akan pernah menggunakan prinsip ambisi dalam diriku.  Waktu berjalan begitu lama, hingga akhirnya tiba orang tuaku mengambil kertas hasil belajar dari wali kelasku. Terlihat dari jauh guratan perasaan kurang puas tergambar dalam wajah bapak&ibu. Aku mendekat, mengambil kertas dan melihat dengan jelas tertulis kata LULUS dan sebuah nilai NEM 37.65. Aku seharusnya bersyukur. Tapi aku justru memikirkan hal-hal yang setelah aku sadari itu sangat  tolol.

Yah! NEM ini bisa diterima di P*dz gak ya? Duh nilai terendah tahun lalu di sana berapa sih? Tapi ini persebaran nilainya tinggi atau rendah ya. Hla tapi itu yang lain tinggi-tinggi. Trus gimana kalo aku gak bisa di terima di sana..............”

Seketika aku menangis. Hal itu terus bergejolak dalam pikiranku selama perjalanan pulang. Sekolah impianku sejak SD. Terispirasi oleh seorang kakaku yang sering menceritakan kegiatan kegiatan asyik dan hal menyenangkan di sana. Bukan hanya itu, akan ada sebuah perasaan “tertekan” jika aku tak bisa di terima di sekolah itu. How come? Well, two of my cousins are studying there. So did my sister. Pikiran pendek memang. Manusia punya jalan sendiri-sendiri. Namun, sebenarnya bukan hanya karena cerita cerita “baik” yang sering aku dengar dari saudara-saudaraku, but deeply, dari diri ku sendiri aku memang pengen sekolah di sana. Ya You-Know-It’s one of most fovourite-famous-high quality-good sekolah di Yogykarta.

The Day! Jujur aku sedikit pesimis melihat nilai-nilai lain yang lebih tinggi. Belum lagi, nilai yang ditambah nilai prestasi yang menjadi lebih dan lebih tinggi. Setelah aku memasukan form pendaftaran di sekolah itu, aku terus meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa. Aku pasti bisa diterima. Hari pertama aman. Aku masih bertengger dalam daftar nama-nama pendaftar sekolah itu. Namun, hari kedua sekaligus hari terakhir pendaftaran dan penutupan menjadi hari sulit. Posisiku terus turun, terdesak pendaftar pendaftar baru. Turun dan turun hingga lembar halaman terkahir. Hingga akhirnya, pukul 12.05 aku terlempar.Namaku sudah tak tertulis lagi di lembar deretan nama nama pendaftar sekolah P*dz.  Hilang sudah kesempatanku dapat bersekolah di situ.Impian sejak aku di bangku sekolah dasar sekarang menjauh.

Duniaku seakan runtuh saat itu. Tak ada yang bisa ku lakuakan selain menangis. Sedih dan kecewa.Namun, aku berusaha menerima. Kutinggalkan lembar nama-nama pendaftar di sekolah itu. Aku beralih ke deretan nama nama di daftar SMAN 8 Yogyakarta. Namun kemudian pukul 13.21 namaku kembali tak ada dalam nama pendaftar SMAN 8 Yogyakarta. Aku panik. Kulihat nilaiku masih mencukupi di SMAN 8 Yogyakarta. Ternyata, namaku kembali tertulis di lembar pendaftar sekolah P*dz. Yah, walaupun di posisi terakhir. Aku sangat bersyukur.Hal ini seakan memberi angin segar dalam rongga dadaku. Mimpi itu kembali dekat. Aku terus merefresh data dan Alhamdulillah aku masih bertahan. 

Hingga pukul 13.57, tiga menit sebelum pendaftaran ditutup, ya tiga menit yang mengubah kebahagian menjadi sebuah kesedihan lagi. Aku kembali terlempar. Dan ini rasanya lebih sakit. Sangat. Lebih sedih. Lebih kecewa. Ya, aku menangis. Menangis untuk yang kedua kalinya. Bahkan, aku sempat  berpikir, mengapa Allah mempermainkan aku seperti ini. Namun, karna kata-kata Ibu yang terus menenangkan aku, aku sadar. Aku yakin, ini memang jalan yang terbaik yang telah diberikan Allah kepadaku. Allah tak pernah salah. Aku terus meyakini itu. Berusaha untuk menerima dan ikhlas. Gak gampang memang. Aku tak memungkiri itu. Butuh waktu yang lama hingga aku benar benar mengerti jalan apa yang sebenarnya telah ditunjukkan Allah kepadaku.

Sekarang, aku gak pernah menganggap masuk SMAN 8 Yogyakarta menjadi sebuah kesalahan. Itu adalah sebuah karunia besar yang telah Allah berikan kepadaku. Bukan terpaksa lagi. Aku sekarang mengerti dibalik ini semua. Benar saja, disini aku mendapatkan teman-teman yang luar biasa hebat. Pengalaman-pengalaman yang tak akan mampu bisa di beli dengan sekarung uang. Percayalah, semua keputusan Allah adalah baik. Terkadang Allah tidak memberikan hal yang kita inginkan, namun lebih dari itu, Allah pasti memberikan hal yang kita butuhkan, hal yang terbaik untuk kita.